Deng Ile: Lakkang, Pulau di tengah Kota Makassar

Mei 13, 2015

Lakkang, Pulau di tengah Kota Makassar


Pernah dengar Pulau Lakkang sebelumnya? Sepertinya kurang lebih pembaca budiman sama dengan saya. Saya juga baru dengar nama Lakkang beberapa saat yang lalu dimana kumunitas tempat saya sering nimbrung akan mengadakan gathering disini. Yah, Lakkang bukanlah jenis makanan tapi sebuah nama tempat yang cukup eksotis ditengah kota Makassar.

Lakkang berada tepat di tengah aliran Sungai Tallo yang cukup luas dan membujur melintasi kota Makassar, jadi kurang lebih tempat ini bisa dianggap sebagai pulau, tepatnya hidden island on the smart city (apa-omong). Luas pulau ini juga saya belum tahu pasti tapi menurut narasumber saat sempat berjalan-jalan disini 'Om Baco' sedikitnya ada sekitar seratusan warga yang mendiami lokasi ini.



Akses ke tempat ini juga cukup mudah dan terjangkau hanya perlu merogoh kocek 3.000 rupiah / satu kali nyebrang dan 2.000 rupiah untuk sewa parkir kendaraan di dermaga kera-kera namun jika anda ingin membawa kendaraan (motor) keseberang cukup menambah uang kapal sejumlah 2.000/motor.

Menuju ketempat ini pertama-tama anda harus masuk ke area kampus UNHAS (Universitas Hasanuddin) dari pintu 01 - jalan terus sampai melewati kampus Politeknik. Tidak jauh dari sana anda akan mendapati pertigaan kemudian ambil kiri, lalu jalan terus. Sebelum mentok ada pembelokan ke kanan, ikuti saja arah utamanya sekitar 500 meter kemudian anda akan mendapati sebuah dermaga. Dermaga kera-kera, ada fasilitas parkir motor dan mobil meski belum memadai tapi sesuai pengalaman saya waktu berkunjung kesini sengaja tidak mengunci leher motor saya dan alhamdulillah pas pulang motornya masih ada. "Amanji motor ta kak toh" sahut anak yang juga sebagai jukir disini pas saya mau balik kemudian saya bayar dan senyum-senyum ke anak ini. Lanjut setelah sampai di dermaga kita harus nunggu kapalnya full dulu atau setengah full barulah kapalnya bakal jalan. Perjalanan sekitar 10 menit menyusuri Sungai Tallo sudah bisa sampai di Dermaga Lakkang.

Dermaga Lakkang tidak begitu besar namun cukup teratur dan bersih. ada logo salah satu bank ternama di Indonesia yang menghiasi kapal kecil untuk penyebrangan dan dinding dermaga. mungkin fasilitas ini adalah bantuan dari pihak bank. "Binatang berkaki empat yang sering menggonggong"-Nya - saya tidak sempat bertanya soal hal tadi. Selanjutnya setelah sampai Dermaga Lakkang anda bisa istirahat dulu disini, melepas penat atau ngopi dulu di warung sini. Sambil menikmati hamparan sungai yang membentang luas dan menantang langit yang menggarang panasnya disiang hari.

Beberapa foto yang sempat saya abadikan saat berada di Lakkang - Dermaga Lakkang, Bunker-Bunker peniggalan perang, View dari Dermaga Kera-Kera.
Selepas penat, anda bisa coba berkeliling ke dalam pulau, menyusuri jalan setapak mungkin tidak begitu spesial. tapi asal anda tahu sebuah kisah kelam pernah menyelimuti tempat ini. sejarah mencatat disini adalah sebuah benteng terakhir atau base-camp para tentara-tentara jaman dulu. dari tentara Jepang, Belanda, maupun Pasukan Pemberontak DI TII bahkan pernah menduduki tempat ini. Hal inilah yang membuat tempat ini tidak begitu ramai dihuni.

Menurut "Om Baco" kala berkisah soal sejarah tentang tempat ini, Ketika Jepang berkuasa disini banyak penduduk yang memilih meninggalkan tempat ini meski tidak semua. Namun pada saat Jepang menyerah ketika Hiroshima dan Nagasaki dibombardir oleh tentara sekutu membuat jepang harus meninggalkan lokasi ini. Waktu bergulir, pergolakan politik dalam negri tak bisa di elakkan. Gerakan DI-TII yang merupakan basis tentara perjuangan kemerdekaan Indonesia menolak bergabung dengan NKRI sehingga dikenanglah pasukan ini sebagai Tentara Pemberontak DI-TII atau kami biasa memanggilnya dengan sebutan Gerilya. Konon dimasa berkecamuknya Politik dan peperangan di daerah sulawesi selatan Pasukan DI-TII pernah menduduki Pulau Lakkang ini dan menjadikannya sebagai markas persembunyian dari Tentara Nasional Indonesia (TNI). Beberapa bunker yang sampai sekarang masih bisa dilihat puing demi puingnya disini dulunya dijadikan sebagai base pertahanan bagi tentara DI-TII.

Kisah lain mencatat bahwa ketika DI-TII Menduduki lokasi ini warga sekitar diwajibkan untuk meninggalkan Pulau (diusir paksa). Akan tetapi hal ini tidak berlaku jika warga tadi bersedia untuk bergabung dengan Pasukan DI-TII, namun sepertinya warga disini sadar betul bahwa peperangan itu mengerikan sehingga sampai saat sekarang penduduk disini pun masih kurang. Sisa-sisa bunker yang sampai saat ini menjadi daya tarik lokasi ini memang masih ada. tidak bergeser sedikitpun hanya saja tak ada langkah kongkrit dan kontinyu dalam memelihara peninggalan bersejarah satu ini. sewaktu diceritakan mengenai hal ini, disitu saya merasa seperti "Binatang berkaki empat yang suka menggonggong". disini saya tidak bisa menyalahkan pemerintah, toh untuk memperbaiki tempat ini butuh dana yang tidak sedikit. Kalaupun diperbaiki nanti tempat ini bisa jadi-bisa jadi dikomesialisasi besar-besaran oleh pihak luar dan kemungkinan besar malah merusak tatanan sejarah dan alam yang sudah mendarah daging disini. biar saja masyarakat sini yang memperbaiki lingkungannya, toh masyarakat sini belum tentu ngerti caranya. sekalian belajar toh. lagian kalau nanti tempat ini ramai dikunjungi kan masyarakat sini juga yang dapat manfaatnya. nda mungkinlah pemerintah yang diuntungkan. ya kan pak?

Lakkang, Bagaikan Chococips ditengah-tengah adonan Kota Makassar. siapa yang tak kenal Makassar dengan ragam kuliner nikmatnya? kota ini sudah berbintang kalau bicara soal makanan. jadi kurang lebih Makassar bak tanah dilapisi aroma semerbak Makanan-Makanan Surgawi, itulah Makassar. ditengah adonan Makassar yang lezatnya melegenda ternyata ada setitik Chococips yang tersembunyi meski tak banyak warga yang mengetahui adanya tempat ini. Datanglah dulu kesini, di Pulau Lakkang. Lihat-lihat lah dulu apa yang sudah saya nikmati disini. Jangan lupa pakai baju outdoor lalu mungkin bisa membawa kamera jinjing atau seperangkat alat pancing dan berdamai dengan alam disini. Sembari nikmatilah senja yang terhampar diatas gelembung-gelembung air dan sedimen sungai Tallo.

Cukup sekian, Salam manis.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Post a Comment